Langsung ke konten

Mengenal CGTI

Membangun sistem bagi ekosistem gifted dan talented di Indonesia

Setiap anak memiliki cara berkembang yang berbeda. Namun anak-anak gifted dan talented di Indonesia sering menghadapi situasi yang sama: potensi mereka tidak dikenali, atau dikenali namun tidak diberi ruang untuk benar-benar bertumbuh. Sekolah belum punya cara baku untuk mengenali keberagaman potensi ini, guru belum punya standar untuk mendampingi mereka, dan keluarga sering berjuang sendirian mencari arah yang tepat.

Inilah alasan CGTI hadir: untuk mengisi ruang kosong itu dengan membangun sistem yang menghubungkan riset, asesmen, advokasi, dan kemitraan, agar anak gifted dan talented dapat dikenali dan didukung secara lebih menyeluruh dan berkelanjutan.

Perjalanan ini dimulai sejak 2016, ketika istilah "gifted" masih asing di Indonesia dan kerap disalahpahami. Niat awal kami sederhana: membantu orang tua, guru, dan profesional memahami anak gifted dan talented dengan lebih baik. Dari momen itu pemahaman kami terus tumbuh, bahwa setiap anak gifted dan talented memiliki keunikan masing-masing, dan sebagian dari mereka membutuhkan pendekatan yang lebih personal untuk benar-benar berkembang sesuai potensinya.

Hari ini, CGTI berdiri sebagai think tank dan ecosystem builder yang digerakkan bersama oleh akademisi, profesional, dan orang tua sebagai relawan, melalui empat fungsi utama: Riset & Data, Asesmen & Intervensi, Advokasi & Komunitas, serta Kemitraan & Relasi.

CGTI bukan tentang satu orang atau satu program. Ini tentang membangun sistem yang bisa terus hidup dan tumbuh, bersama orang tua, sekolah, peneliti, dan profesional yang punya kepedulian yang sama.

Nancy Dinar ยท Direktur Eksekutif & Pendiri CGTI

Sambutan Direktur Eksekutif

Dari keresahan kecil yang terus bertumbuh

Saya masih mengingat masa ketika kata "gifted" hampir tidak dikenal di Indonesia dan, ketika dikenal, sering disalahpahami. Banyak anak berpotensi tinggi yang justru dicap "sulit diatur" atau "berbeda", bukan karena ada yang salah dengan mereka, tapi karena lingkungan di sekitarnya belum punya cara untuk memahami mereka.

Dari situlah CGTI bermula, bukan dari rencana besar, tapi dari keresahan kecil yang terus bertumbuh. Selama satu dekade, saya menyaksikan sendiri bagaimana pemahaman kita tentang anak gifted dan talented terus berkembang: dari sekadar mengenalkan istilahnya, hingga menyadari bahwa setiap anak punya cara unik untuk berkembang, dan sebagian membutuhkan pendampingan yang lebih personal untuk benar-benar bertumbuh sesuai potensinya.

Perjalanan ini tidak selalu mulus. Ada masa-masa kami harus mengevaluasi ulang arah, menyesuaikan bentuk, bahkan memulai kembali. Namun setiap fase itu mengajarkan satu hal yang sama: bahwa misi ini terlalu penting untuk dikerjakan sendirian, dan terlalu besar untuk diselesaikan dalam satu langkah.

Itulah sebabnya CGTI hari ini hadir sebagai sebuah sistem, bukan sekadar organisasi yang saya dirikan, melainkan ruang kolaborasi bagi siapa pun yang peduli pada masa depan anak gifted dan talented di Indonesia: orang tua, pendidik, peneliti, dan profesional yang kini bergerak bersama dalam satu arah yang sama.

Saya mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini bersama kami.

Misi ini terlalu penting untuk dikerjakan sendirian, dan terlalu besar untuk diselesaikan dalam satu langkah.

Nancy Dinar, S.E., M.Div., Konselor

Direktur Eksekutif & Pendiri, CGTI

Visi, Misi & Prinsip

Satu visi yang menjadi tujuan kami, lima misi yang kami jalankan, dan empat prinsip yang menjadi pegangan dalam setiap keputusan.

Visi

"Membangun ekosistem nasional yang secara sistematis mengidentifikasi dan mengembangkan individu-individu gifted dan talented."

Ilustrasi tiga remaja Indonesia berkolaborasi merancang model jembatan di ruang belajar

Misi

  1. Mengembangkan landasan bukti dan basis data nasional
  2. Membangun sistem identifikasi dan intervensi yang terstandarisasi
  3. Mendukung sekolah, pendidik, profesional, dan keluarga
  4. Mengambil peran dalam penyusunan kebijakan nasional
  5. Membangun ekosistem kolaboratif

Prinsip

Berbasis ilmiah

Berpusat pada anak

Dapat disesuaikan dan fleksibel

Berbasis kolaborasi

Peran CGTI dalam Ekosistem

CGTI bekerja sebagai satu sistem, bukan sebagai divisi-divisi yang terpisah. Setiap fungsi saling mendukung: data yang terkumpul menjadi wawasan, wawasan diterjemahkan menjadi advokasi, advokasi diperkuat lewat jaringan, dan jaringan membuka jalan penerapan di lapangan.

01

Penelitian

02

Pengumpulan data

03

Advokasi

04

Amplifikasi

Dewan Penasihat

  • Dr. Antonius Tanan, M.B.A., M.Sc., M.A.

    Dewan Penasihat

    Konsultan bisnis keluarga dan pendorong pendidikan kewirausahaan. Memiliki keahlian lintas disiplin di bidang teknik, manajemen bisnis, pembangunan perkotaan, serta pendidikan untuk anak gifted dan talented. Bersemangat merancang program pembelajaran kewirausahaan yang utuh dan berdampak bagi para siswa.

  • William Gunawan, S.Psi., M.Min., M.Si., Ph.D., CLC.

    Dewan Penasihat

    Akademisi dan praktisi di bidang psikologi dengan keahlian dalam pengembangan kepemimpinan dan ilmu perilaku. Bergelar doktor dengan latar belakang multidisiplin di bidang psikologi dan pelayanan keagamaan. Berkomitmen mengembangkan individu dengan kompetensi yang kuat, karakter yang baik, dan dampak yang berarti.

  • Dr. Evy Tjahjono, S.Psi., Psikolog., M.G.E.

    Dewan Penasihat

    Akademisi dan psikolog dengan pengalaman luas di bidang pendidikan serta pengembangan anak gifted dan talented. Bergelar Doktor Psikologi dan Magister Pendidikan Anak Gifted. Aktif dalam pengajaran, penelitian, dan pengembangan masyarakat, dengan keahlian di bidang psikologi pendidikan, psikologi klinis anak dan remaja, serta penilaian bagi siswa gifted.

  • Satriadi Gunawan, S.T., M.M.

    Dewan Penasihat

    Anggota Divisi Kemitraan & Relasi

    Ketua Mensa Indonesia sejak 2023 dan pengembang program Mensa Kids sejak 2024. Praktisi SDM di perusahaan multinasional yang aktif berkontribusi pada pengembangan komunitas ber-IQ tinggi demi kemanusiaan.

  • Sakti Makki, B.Sc.

    Dewan Penasihat

    Pakar strategi merek dan salah satu pendiri MakkiMakki Consulting. Berbekal pengalaman bekerja sama dengan merek-merek ternama di Indonesia dan dunia, ia memberikan wawasan strategis untuk membantu Noble Academy berkembang dengan arah yang jelas, kreativitas, dan tujuan yang tegas.

Tim Inti

CGTI digerakkan oleh tim inti dan relawan dari berbagai latar belakang: psikologi, pendidikan, riset, hingga kemitraan, yang bekerja paruh waktu dengan komitmen penuh pada misi bersama.

Pengurus

  • Nancy Dinar, S.E., M.Div., Konselor

    Direktur Eksekutif & Pendiri

    Nancy Dinar adalah pendiri Noble Academy dan CGTI. Ia merupakan pendidik, konselor, dan penulis buku "Apakah Saya Juga Gifted?". Ia berkomitmen mendukung individu gifted dan keluarganya.

  • R. Aulia K., S.E.

    Sekretaris

    Profesional dengan hampir 20 tahun pengalaman sebagai manajer di bank swasta. Saat ini fokus pada kewirausahaan dan aktif berperan sebagai advokat bagi anak gifted dan talented.

  • Rosa Widjajanti

    Bendahara

    Lulusan diploma akuntansi dengan pengalaman di bidang keuangan, pengawasan internal, dan pengadaan pada perusahaan BUMN aviasi.

Kepala Divisi

  • Dr. Pinkan Margaretha Indira, M.Psi., Psikolog.

    Kepala Divisi Riset & Data

    Kepala Divisi Asesmen & Intervensi

    Kepala Pusat Layanan Psikologi UKRIDA. Pengajar, peneliti, dan psikolog profesional dengan pengalaman penilaian psikologis, konseling, dan bimbingan bagi individu, anak, dan keluarga.

  • Dr. Ismail Fahmi

    Kepala Divisi Advokasi & Komunitas

    Praktisi pendidikan dan komunitas. Aktif terlibat dalam mendukung inisiatif yang mendorong pembelajaran yang bermakna dan pengembangan pribadi.

  • Radita Sonixtus Arauna, S.T., M.B.A.

    Kepala Divisi Kemitraan & Relasi

    Akademisi dan profesional dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang kepemimpinan dan pengembangan organisasi. Berlatar belakang Teknik Elektro, MBA di bidang Strategic Marketing, serta riset doktoral dalam AI dan kepemimpinan.

Anggota Divisi

Riset & Data

Vincent Suryawidjaja, M.Psi.

Anggota Divisi Riset & Data

Dosen dan peneliti di bidang Psikologi Pendidikan, dengan spesialisasi AI dalam pembelajaran dan teknologi pendidikan. Aktif dalam pengajaran, riset, dan kepemimpinan akademik.

Asesmen & Intervensi

Siti Dwita Anjani, M.Psi., Psikolog.

Anggota Divisi Asesmen & Intervensi

Psikolog yang berspesialisasi dalam perkembangan anak gifted, dengan pengalaman asesmen psikologis dan intervensi bagi individu gifted dan talented. Saat ini menjabat sebagai Koordinator Mensa Youth di Mensa Indonesia.

Pusda Sari, M.Psi., Psikolog.

Anggota Divisi Asesmen & Intervensi

Psikolog pendidikan dengan pengalaman dalam konseling dan pengembangan siswa. Memberikan edukasi psikologis terkait kesehatan mental, pengasuhan, dan perkembangan anak.

Advokasi & Komunitas

Yeni Sahnaz

Anggota Divisi Advokasi & Komunitas

Advokat orang tua untuk anak gifted. Mendukung inisiatif CGTI, meningkatkan kesadaran tentang pendidikan gifted di Indonesia, serta mendampingi keluarga dan anak.

Arum W. Sutardjo, S.Psi.

Anggota Divisi Advokasi & Komunitas

Berlatar belakang psikologi, aktif mendukung dan berbagi tentang pembelajar kreatif dan istimewa, dengan fokus pada pengembangan potensi dan pemahaman kebutuhan anak gifted.

Victoria Jao, S.E.

Anggota Divisi Advokasi & Komunitas

Ibu rumah tangga, pengajar piano, auditor, dan konselor. Pada 2022 ia mendirikan Gifted Community Jakarta, yang berfokus pada dukungan bagi anak gifted dan keluarganya. Ia juga penulis buku digital "Symphony of Life, A Walked with God: Gifted Child".

Patricia Lestari Taslim, M.Pd.

Anggota Divisi Advokasi & Komunitas

Pendidik dan ibu dari anak gifted. Pendiri PSGGC Jogja (2014) dan inisiator PSGGC Indonesia (2024).

Kemitraan & Relasi

Elizabeth Rachel Levina, S.Pd., M.A.

Anggota Divisi Kemitraan & Relasi

Magister Pendidikan Anak Gifted dari Teachers College, Columbia University, dan bersertifikat Music Therapy dari New York University. Berpengalaman dalam desain kurikulum dan pembelajaran yang berpusat pada siswa.

Jovita Ferlina, M.Psi., Psikolog.

Anggota Divisi Kemitraan & Relasi

Psikolog profesional yang berspesialisasi dalam individu gifted dan berprestasi. Berpengalaman dalam penilaian psikologis, konseling, dan pendampingan perkembangan sosial-emosional anak dan remaja gifted.

Dampak & Perjalanan

Perjalanan CGTI bukan garis lurus, namun setiap tahap membawa kami semakin dekat pada satu tujuan yang sama: ekosistem yang utuh bagi anak gifted dan talented di Indonesia.

Ini bukan akhir perjalanan, tapi awal dari babak baru CGTI sebagai sistem yang terus tumbuh bersama Indonesia.

  1. 2026

    Sistem yang Direstrukturisasi

    Momentum ini mendorong CGTI melangkah lebih jauh sebagai think tank dengan empat fungsi utama: Riset & Data, Asesmen & Intervensi, Advokasi & Komunitas, serta Kemitraan & Relasi. Noble Academy berkembang menjadi gifted lab, pusat percontohan tempat pendekatan dan kurikulum bagi anak gifted dan talented dikembangkan dan diuji secara langsung.

  2. Februari 2026

    Momentum Nasional

    Seminar nasional tentang ekosistem pendidikan gifted di Kampus UKRIDA menarik perhatian lebih dari 2.200 peserta dari seluruh Indonesia. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah hadir sebagai keynote speaker, sementara panelis terdiri dari Ketua Komisi X DPR RI serta wakil akademisi, edukator, dan orang tua, yang menegaskan bahwa populasi individu gifted yang sangat besar membutuhkan dukungan khusus.

  3. 2023

    Memperdalam Arah

    Memperkuat kembali peran think tank, sembari terus memperdalam pemahaman bahwa setiap anak gifted dan talented memiliki keunikan dan kebutuhan pendampingan yang berbeda-beda.

  4. 2018

    Langkah Nyata

    Noble Academy hadir sebagai program dari CGTI untuk menjawab kebutuhan pendampingan langsung bagi anak gifted dan talented, melengkapi kerja edukasi dan advokasi yang sudah berjalan.

  5. 2016

    Titik Awal

    Memulai langkah pertama untuk mengenalkan konsep gifted dan talented kepada orang tua, guru, dan profesional di Indonesia, pada masa ketika istilah ini masih asing dan kerap disalahpahami.

Mulai dari konsultasi, atau dukung ekosistemnya.